UNIVERSITAS GUNADARMA
FAKULTAS EKONOMI
NAMA
: MARIA CICI
PUSPITA SARI
NPM
: 24215025
KELAS
: 1EB02
FAKULTAS: EKONOMI
JURUSAN: AKUNTANSI
MATA
KULIAH: PEREKONOMIAN INDONESIA
DOSEN:
YUSYE MILAWATI,SE,MM
TAHUN PELAJARAN
2015/2016
Pertumbuhan ekonomi Indonesia pada
2015 sebesar 4,79 persen, terendah selama 6 tahun, demikian menurut catatan
Badan Pusat Statistik, pada Jumat, 5 Februari.
Ini adalah kali pertama ekonomi
Indonesia berada di bawah 5 persen sejak 2009, ketika terjadi krisis keuangan
global.
Sebelumnya, Bank Indonesia (BI)
memperkirakan pertumbuhan ekonomi Indonesia sepanjang 2015 mencapai 4,8 persen,
sedikit lebih tinggi dibandingkan proyeksi Kementerian Keuangan sebesar 4,74
persen.
FE UI
proyeksi untuk 2016 sebesar 5.25 persen
Menanggapi hasil ini, ekonom
Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia Fithra Faisal mengatakan
ia sudah memprediksi sejak awal.
“Turunnya pertumbuhan
ekonomi kita dibanding tahun sebelumnya memang sudah saya prediksi sejak awal,”
kata Fithra saat dihubungi Rappler, Jumat.
Menurutnya, setahun lalu RIU FEB UI
memproyeksikan ekonomi 2015 akan tumbuh 5,2 persen atau lebih
rendah dari target pemerintah dalam asumsi APBN, yaitu 5,7 persen.
“Tapi kemudian kami mengkoreksi itu
lantaran sejumlah faktor. Salah satunya adalah penurunan kinerja ekspor seiring
anjloknya harga komoditas,” ujarnya. Selain itu, juga “lambannya eksekusi belanja
pemerintah dan faktor shock”.
Fithra mengatakan,
kebijakan-kebijakan yang dilansir pemerintah kerap kali belum jelas. Misalnya,
ingin mencapai target tinggi, tapi pemerintah malah terlalu sering melakukan
kebijakan fiskal kontraktif.
“Pada November lalu, kami terpaksa
mengoreksi pertumbuhan ekonomi Indonesia pada 2015 akan mentok di level 4,75
persen. Angka ini sudah termasuk proyeksi kinerja ekonomi kuartal IV-2015 yang
diperkirakan hanya tumbuh 4,9 persen,” ungkapnya.
“Artinya jika
dibanding realisasi, proyeksi kami mendekati akurat.”
Ia juga memaparkan bahwa untuk 2016,
ia memproyeksikan pertumbuhan ekonomi akan berada pada angka 5,25 persen.
Pemerintah masih optimis pertumbuhan
ekonomi Indonesia akan tetap seusai dengan target APBN 2015 sebagaimana
tertulis dalam Nota Keuangan dan Rancangan Anggaran Pendapatan dan Belanka
Negara Perubahan Tahun Anggaran 2015 (NK RAPBN-P 2015). Optimisme pemerintah
tersebut berbanding terbalik dengan beberapa lembaga yang telah melakukan koreksi
ke bawah pertumbuhan ekonomi di tahun 2015
.
International Monetary Fund (IMF)
mengoreksi pertumbuhan global menjadi 3,8% dari 4,0% dan pertumbuhan emerging market menjadi 5,0%
dari semula 5,2 persen pada bulan oktober 2014. Koreksi pertumbuhan tersebut
tidak terlepas dari masih belum menggembirakannya kinerja perekonomian di
wilayah Eropa dan Jepang, meskipun perekonomian Amerika Serikat menunjukkan trend
yang terus meningkat.
Pelemahan perekonomian Cina sebagai kekuatan
ekonomi kedua dunia, kelesuan perekonomian dan embargo terhadap Rusia serta
penurunan harga komoditas dunia di pasar internasional juga menjadi pemantik
perlambatan ekonomi di tahun 2015. Perekonomian Indonesia tidak dapat dilepaskan
dari perlambatan ekonomi global tersebut
Dengan memperhatikan perkembangan ekonomi
global tersebut, beberapa lembaga melakukan koreksi terhadap angka pertumbuhan
ekonomi Indonesia di
tahun 2015,
Prediksi pertumbuhan ekonomi
Indonesia tahun 2015 yang berada dibawah asumsi
5,8 persen dalam APBN 2015 tersebut akan
dipengaruhi oleh berbagai faktor.
Perlambatan pemulihan ekonomi global
serta perlambatan ekonomi di Eropa, Jepang dan Cina merupakan faktor yang signifikan.
Perlambatan-perlambatan tersebut pada akhirnya akan mendorong penurunan
permintaan dunia secara
aggregat sehingga berimplikasi
terhadap kinerja ekspor Indonesia di tahun yang akan datang. Untuk menjaga
capaian target pertumbuhan ekonomi tidak terlalu jauh turun dari angka 5,8
persen, peran permintaan domestik serta kinerja ekonomi
domestik harus mampu menjadi penopang
perekonomian di tahun 2015. Kelonggaran fiskal yang diperoleh oleh pemerintah
pasca pencabutan subsidi
premium dan penetapan fixed subsidy solar
harus mampu menjadi stimulus perekonomian domestik.
Kinerja Pertumbuhan Ekonomi
Indonesia Sepanjang Tahun 2014
Kinerja ekonomi tahun 2014 mengalami
perlambatan dibandingkan tahun sebelumnya. Perlambatan tersebut terlihat dari pertumbuhan
hingga kuartal ketiga 2014 dibandingkan kuartal sebelumnya, baik sektoral
maupun sisi penggunaan,lebih rendah dibandingkan pertumbuhan hingga kuartal
ketiga tahun 2013. Dari sisi sektoral, hanya sektor perdagangan yang mengalami pertumbuhan
yang lebih tinggi dibandingkan tahun 2013. Untuk sisi penggunaan, konsumsi rumah
tangga mengalami pertumbuhan yang lebih tinggi dibandingkan tahun sebelumnya.
Tantangan terberat kinerja
perekonomian Indonesia di sepanjang tahun 2014 sangat terasa pada kuartal
pertama. Pada Q1-2014, pertumbuhan ekonomi hanya
mencapai 0,97 persen dibandingkan kuartal
terakhir 2013
,
terendah dalam kurun waktu 10 tahun
terakhir. Pada Q1-2014, sector pertambangan dan galian, sektor manufaktur,
sektor listrik, gas dan air bersih, sektor konstruksi serta sektor perdagangan,
hotel dan restoran mengalami perlambatan (pertumbuhan negatif) dibandingkan
dengan kuartal sebelumnya. Perlambatan paling besar adalah sektor konstruksi
sebesar -5,18 persen dan sektor pertambangan dan galian sebesar -3,4 persen.
Dari sisi penggunaan, pada kuartal pertama tahun 2014 kinerja investasi, ekspor
dan impor juga mengalami perlambatan dibandingkan
kuartal sebelumnya .
Kinerja investasi melambat negatif
5,6 persen, ekspor -11,14 persen dan impor -
12,99 persen. Kinerja konsumsi rumah
tangga yang terus menunjukkan pertumbuhan positif dari kuartal ke kuartal
merupakan faktor yang memberikan keseimbangan sehingga pertumbuhan ekonomi
Indonesia di tahun 2014 tidak begitu jauh turun drastis.
Jika di lihat dari kontribusi
sektoral tradeable dan non tradeable, sepanjang tahun 2014 produk domestic
bruto (PDB) Indonesia masih didominasi oleh sector non tradable sebesar 55%.
Tidak jauh berbeda dengan proporsi selama kurun waktu lima tahun terakhir.
Kondisi yang seperti ini menandakan hingga tahun 2014 pertumbuhan ekonomi masih
kurang berkualitas
.
Kinerja Ekspor Indonesia Sepanjang Tahun
2014
Kinerja ekspor Indonesia sepanjang
tahun 2014 mengalami perlambatan dibandingkan dengan tahun sebelumnya. Hingga
bulan November 2014, pertumbuhan year on year (yoy) nilai ekspor sebesar
negatif 2,36 persen (dari165.584 Juta US$ pada tahun 2013 menjadi 161.671 Juta
US$) dan volume ekspor sebesar negatif 20,29 persen (dari 630.800,3 ribu ton
menjadi 502.837,6 ribu ton). Pertumbuhan negatif nilai ekspor yang relatif
rendah dibandingkan volume ekspor di sepanjang tahun 2014 tidak terlepas dari
pelemahan nilai rupiah
dibanding tahun 2013. Melemahnya kinerja
ekspor sepanjang tahun 2014 juga tidak terlepas dari pelemahan dan ketidakpastian
ekonomi global sepanjang tahun 2014.
Hingga bulan November 2014, ekspor migas
dari sisi nilai mengalami penurunan
sebesar negatif 1,95 persen dan dari
sisi volume mengalami sebesar negatif 4,27 persen dibandingkan periode yang
sama pada tahun 2013
Sama halnya dengan migas, kinerja
ekspor non migas juga mengalami perlambatan. Dari sisi nilai mengalami
pertumbuhan negatif 3,77 persen dan sisi volume negatif 21,39 persen.
Lima komoditas yang memberikan sumbangsih
terbesar terhadap nilai ekspor hingga oktober 2014 adalah Batubara (14,27%),
Minyak Sawit (11,89%), Tekstil
dan produk tekstil (8,75%),
Peralatan listrik, alat ukur dan optic (6,9%) dan Produk logam dasar (6,28%)
.
Hingga bulan november, komoditas minyak
sawit, Tekstil dan produk tekstil serta produk logam dasar mengalami pertumbuhan
yang positif dibanding periode yang sama tahun sebelumnya, baik dari sisi nilai
maupun volume ekspor. Dari sisi volume ekspor, komoditas minyak sawit bertumbuh
sebesar 8,18 persen, tekstil dan produk tekstil sebesar 4,12 persen serta
produk logam dasar sebesar 48,76 persen. Sedangkan komoditas batubara dan
Peralatan listrik, alat ukur dan optic mengalami hal sebaliknya. Komoditas
batubara secara nilai mengalami penurunan sebesar 13,12 persen dan volume
sebesar 2,19 persen.
Dari penjelasan angka pada alinea sebebelumnya,
maka dapat disimpulkan bahwa kinerja ekspor yang menurun tidak terlalu dalam
dari sisi nilai masih dapat ditopong oleh kinerja ekspor komoditas minyak sawit
serta tekstil dan produk tekstil yang masih bertumbuh positif baik nilai maupun
volume. Hal ini semakin diperkuat dengan data yang menunjukan bahwa kinerja
ekspor semua komoditas hasil pertambangan yang mengalami pertumbuhan negatif
sepanjang tahun 2014 baik dari sisi nilai maupun volume.
Kinerja Investasi Indonesia
Sepanjang Tahun 2014
Berdasarkan data rilis BPS, kinerja
investasi mengalami perlambatan dibandingkan tahun sebelumnya. Hingga kuartal
ketiga tahun 2014, pertumbuhan investasi yoy sebesar 4,17 persen lebih rendah
dibandingkan tahun 2013 yang mencapai 4,8 persen pada kuartal yang sama.
Meskipun demikian, kinerja Investasi sepanjang tahun 2014 masih menunjukkan kinerja
yang baik dan positif. Hal tersebut dapat terlihat dari pertumbuhan yoy kinerja
investasi setiap kuartalnya yang mengalami pertumbuhan yang positif meskipun di
quartal pertama mengalami perlambatan. Pertumbuhan kuartal pertama (yoy)
mencapai 4,35 persen
kuartal kedua sebesar 4,67 persen
dan pada kuartal ketiga sedikit melambat yang hanya mencapai 3,52 persen. Berdasarkan
rilis data BKPM , hingga kuartal ketiga pertumbuhan yoy investasi langsung
sektor primer sebesar 9,18 persen, sekunder sebesar negatif 3,55 persen dan
sektor tersier sebesar 68,39 persen. Untuk sektor tersier, semua sektor mengalami
pertumbuhan positif sepanjang tahun 2014 yakni sektor Listrik, Gas dan Air,
Konstruksi, Perdagangan & Reparasi, Hotel &
Restoran, Transportasi, Gudang &
Komunikasi, Perumahan, Kawasan Industri & Perkantoran dan Jasa Lainnya.
Sama halnya dengan sektor tersier, sektor primer juga mengalami pertumbuhan positif
kecuali sektor pertambangan yang mengalami pertumbuhan negatif sebesar 14,2
persen.
Lima sektor dengan investasi
terbesar sepanjang tahun 2014 adalah sektor
pertambangan (12,28%), listrik, gas
dan akhir (12,02%), Industri Makanan
(11,87%), Transportasi, Gudang &
Komunikasi (11,46%) dan Industri Kimia
dan Farmasi (8,7%). Dari kelima
sektor terbesar tersebut, pertambangan mengalami pertumbuhan negatif 14,2 persen
(yoy) dan empat sektor lainnya
masih bertumbuh positif. Pertumbuhan
positif terbesar adalah sector transportasi,
gudang dan komunikasi sebesar 104,84
persen. Sektor listrik,gas dan air
bertumbuh sebesar 50,31 persen,
industri makanan sebesar 52,16 persen dan industri kimia dan farmasi sebesar 2
Daftar pustaka
Biro Analisa Anggaran dan
Pelaksanaan APBN-SETJEN DPR-RI| 4, Pertumbuhan
Ekonomi Indonesia Tahun 2015 Dan Kinerja Tahun 2014diakses pada tanggal 6 maret 2016 , pukul 20:05 WIB
http://www.dpr.go.id/doksetjen/dokumen/apbn__Pertumbuhan_Ekonomi_Indonesia_Tahun_2015_Dan_Kinerja_Tahun_201420150129111043.pdf
http://www.dpr.go.id/doksetjen/dokumen/apbn__Pertumbuhan_Ekonomi_Indonesia_Tahun_2015_Dan_Kinerja_Tahun_201420150129111043.pdf
Wisanggeni , haryo Pertumbuhan ekonomi
Indonesia 2015 terendah selama 6 tahun diakses pada 6 maret 2016 , pukul 20:15
WIB
http://www.rappler.com/indonesia/121425-pertumbuhan-ekonomi-indonesia-2015
http://www.rappler.com/indonesia/121425-pertumbuhan-ekonomi-indonesia-2015
